Most Popular
- 2011-03-16 09:00:00
Memaksimalkan Untung Dengan Strategi Pemasaran - 2012-02-29 14:20:39
Rumah Bung Karno keropos 70 persen - 2010-12-27 10:26:00
Mengenal 12 Ragam Tas Wanita - 2010-12-22 10:03:00
Informasi Seputar Coklat Dan Toko Coklat - 2010-04-10 01:40:55
Tips Memakai Warna Pastel
Hair & Beauty
-
12 May 2012, 03:05:44
Penyebab Pori-Pori Jadi Besar
Meski penampilan wajah sudah di-make-up sempurna dengan alas bedak, bedak, dan sebagainya, tetapi pori-pori yang besar kadang tetap terlihat. Menutupinya dengan make-up bukan jalan... -
12 May 2012, 03:05:02
Tips Untuk Mengatasi Pori-Pori Besar -
12 May 2012, 03:05:22
Trik Untuk Membuat Make-Up Tahan Lama
Chantika On Facebook
Visitor
You Are Here: Home » » Tubuh Nikita Mirzani Penuh Tato
Sunday, 20 May 2012





Australian Fashion Week (AFW)
Tidak ada panggung ”catwalk” mewah nan megah. Hanya ada karpet putih di lantai ”catwalk” yang kanan-kirinya terdapat undakan untuk tempat duduk penonton pergelaran busana di Australian Fashion Week di Sidney, Australia, 3-7 Mei 2010 lalu.
Meskipun begitu, tempat yang sederhana di Terminal Penumpang Luar Negeri di Circular Quay barat di Sidney Cove tersebut mampu menarik para desainer, pengamat mode, pebisnis mode dari Australia dan Asia Pasifik, dan tentu saja media, untuk datang ke pesta mode tahunan terbesar di Negeri Kanguru tersebut.
Australian Fashion Week (AFW) diselenggarakan dua kali dalam setahun. Pertama, pada April/Mei dengan tema ”Spring-Summer Collection” dan kedua pada September dengan tema ”Trans-Seasonal Collection” atau ”Autum-Winter Collection”. Pergelaran ”Spring-Summer Collection” 3-7 Mei lalu, diikuti lebih dari 80 desainer dari Australia dan Asia Pasifik. Koleksi baju-baju yang ditampilkan adalah baju siap pakai.
Dengan kehadiran para buyer dan media, Australian Fashion Week yang diselenggarakan sejak tahun 1996 ini menjadi ajang bagi para desainer untuk memasarkan produk mereka ke dunia internasional. Acara ini diakui secara global sebagai pemberhentian kelima pada sirkuit pekan mode internasional setelah London, Paris, Milan, dan New York.
”Saya mau ambil kesempatan ini sebagai jump start untuk go international. Kalau saya sukses di sini (Australia), go to next step, misalnya London,” kata Sally Koeswanto (40), desainer asal Indonesia yang menggelar 15 rancangan terbarunya bertema ”Two Thousand Twelve” di AFW pada 4 Mei 2010.
Ini kali pertama alumnus The Whitehouse School of Design Sydney tersebut mengikuti AFW. Dia punya alasan tersendiri mengapa memilih Australia sebagai debutnya untuk go international. Alasannya, industri mode Tanah Air dan juga dunia selama ini berkiblat ke Barat dan Australia adalah representasi dunia Barat yang paling dekat dengan Indonesia dan Asia secara umum. Dan lagi, AFW sudah menjadi agenda tetap para pembeli dan penikmat mode internasional.
Sally tampil satu kelompok bersama tiga perancang busana lainnya, yaitu Breathless, Garry Yang, dan Leigh Schubert dalam pergelaran busana bertema ”Women’s Ready to Wear #2”. ”Ini memang group show karena saya dianggap baru, tetapi saya senang, puas. Semoga saya bisa mewarnai Australian Fashion Week. Suatu saat nanti saya ingin individual show,” kata finalis of Cotton Foundation Awards Australia 1994 tersebut.
Mencuri perhatian
Karena baru awal, Sally pun bertekad mencuri perhatian media di Australia. Oleh karena itu, meski sadar bahwa pasar Australia lebih kasual dan less couture, Sally tetap tidak meninggalkan ciri khas rancangannya yang menyukai detail dan keberaniannya dalam mengeksplorasi penggunaan berbagai macam material yang memberikan kesan futuristik dan mewah. Hal ini terlihat jelas dalam 15 rancangannya. Misalnya, dia tidak segan-segan menggunakan rangkaian gagang kacamata untuk aksesori baju rancangannya, juga paku-paku warna emas.
”Memang masih couture detail. Prioritas saya sekarang ini adalah branding. Saya ingin orang (di AFW) melihat kemampuan saya dulu. Saya ingin dilihat sebagai desainer Asean yang tak kalah kualitasnya dengan perancang Australia. Saya ingin mencuri perhatian media di Australia supaya cepat mendapatkan citra,” kata Sally.
Rancangan Sally memang berbeda dengan rancangan desainer lainnya yang satu kelompok dengannya. Koleksi Breathless, misalnya, lebih kasual dengan potongan-potongan sederhana, juga koleksi Gary Yang yang tidak banyak detail. Meskipun banyak menampilkan baju pesta, koleksi Leigh Schubert pun lebih sederhana dan tidak banyak detail.
Henryk Lobaczewski, fotografer yang juga pengamat mode Australia yang sering datang di perhelatan AFW, mengatakan bahwa rancangan Sally memang berbeda dengan rancangan desainer lainnya yang satu group show dengan Sally. ”Sangat bagus. Banyak detail memberi ciri khas tersendiri pada koleksi Sally,” katanya.
Sally mengatakan, dengan rancangan ”Two Thousand Twelve”-nya, dia ingin menunjukkan sosok perempuan yang kuat, mandiri, seksi, tetapi bergaya dan futuristik. Untuk memberikan kesan kuat, misalnya, dia memainkan bahan kulit di hampir semua rancangannya. Ada setelan jaket kulit yang dipadukan dengan celana kulit ketat dengan motif di bagian belakang yang dibuat menggunakan teknik pemotongan dengan laser (laser cut).
Untuk memberi kesan anggun, pada bahu belakang jaket diberi dekorasi dari bahan resin. Penampilan ini dilengkapi dengan koleksi tas terbarunya dari bahan kulit warna hitam dengan dekorasi dari bahan resin.
Rancangan korset kulit dengan laser cut yang dipadukan dengan jas panjang dari bahan satin warna hijau kehitaman juga untuk memberikan kesan bahwa perempuan yang kuat tetap bisa menampilkan sisi-sisi kewanitaannya yang anggun dan lembut. ”Saya ingin memberi kesan kuat, tetapi tidak garang,” kata Sally yang pernah mendapat kehormatan mewakili Australia di Smirnoff Awards ini.
Incoming search terms:
Most visitors also read :